togel singapura agen poker

Uniknya Mudiak dengan Bersepeda Hingga Niak Rakit

Uniknya Mudiak dengan Bersepeda Hingga Niak Rakitpalinganeh.com – Mudak yang berarti pulang kampung, tradisi ini sudah ada sejak lama di indinesia, terutama saat hari mendekati lebaran, biasanya mudik di mulai sejak hari pertengahan bulan puasa, karena waktu mudik berakhir seiring waktu berakhirnya bulan puasa, otomatis makin dekat hari lebaran makin padat jumlah orang mudik,

Alat transportasi yang di gunakan para pemudik ini tergantung kondisi ke uangan dan situasi kendaraan yang pastinya berjejalan, bagi yang berkantong tebal mudik menggunakan pesawat adalah pilihan yang tepat, atau paling tidak menggunakan mobil pribadi meski kendalanya terjebak macet, tapi bagaimana bagi pemudik yang tidak memiliki kendaraan pribadi atau uang yang cukup, nah mudik menggunakan sepeda motor, bahkan sepeda onthel pun tak jadi kendala, dan jarak yang di tempuhnya pun tak tanggung-tanggung rata-rata di atas 1000 KM wow! tentu mudik dengan cara ini betuh tekad yang kuat, apalagi jika di jalani seorang diri, yaa inilah mudik yang pasti mengaksyikkan, meskipun sejatinya melelahkan dan memakan waktu yang tidak sedikit, Nah berikut ini sejumlah pemudik yang menggunakan kendaraan apa adanya,

taruhan bola

1. Mudik Dengan Sepeda fixie dari Bandung ke Jambi
Mudik Dengan Sepeda fixie dari Bandung ke JambiAksi Aji Eka Sapta terbilang nekat. Mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung itu memilih mudik dengan sepeda fixed gear (fixie) ke kampung halamannya. Tujuannya Jambi, yang berjarak 1.200 kilometer.

Aji menempuh perjalanan selama 8 hari. Hebatnya lagi, dia tiba di Jambi lebih cepat satu hari dari dari target yang direncanakan sebelumnya.

Perjalanan sangat jauh dan melelahkan ini agaknya tidak terlalu menjadi masalah bagi Aji, karena mudik merupakan suatu kesempatan untuk bersilahturami, sungkem, mohon ampun kepada orang tua. Kekuatan maaf itu dapat memepererat tali kasih sayang dan romantisme dalam keluarga.

2. Mudik dengan mobil boks
Mudik dengan mobil boks
Ketimbang berdesak-desakan menggunakan angkutan umum, Syamsul dan keluarga besarnya memilih mudik dari Jakarta ke Surabaya dengan menggunakan mobil boks.

Syamsul beralasan, jumlah anggota keluarganya yang banyak membuat dia terpaksa memutar otak untuk menghemat ongkos mudik. Dipilihlah mobil boks sebagai kendaraan pulang kampung.

Ruang boks disulap menjadi ruang penumpang. Ada 10 anggota keluarganya berikut tumpukan barang-barang bawaan di dalamnya.

“Pulang kampung dengan mobil boks, jauh lebih irit ketimbang menggunakan angkutan umum. Apalagi, anggota keluarganya di Jakarta banyak,” katanya.

Kemacetan di jalur Pantura menyebabkan dia baru sampai Lamongan, Jawa Timur setelah menempuh perjalanan tiga hari. Agar perjalanan jauh itu agak nyaman, alas boks diberi tikar dan bahan yang lembut.

“Setiap terasa capek atau pegal, mobil berhenti agar penumpang bisa sekadar turun dan beristirahat. Perjalanan sejauh lebih dari 800 kilometer itu saya bawa santai saja sehingga tidak menjadi beban bagi para penumpang yang berada di dalam boks,” kata dia.

3. Mudik dengan rakit
Mudik dengan rakit
Desa Maruyungsari di Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis berbatasan langsung dengan Desa Kedungreja di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kedua daerah ini dipisahkan oleh Sungai Citanduy.

Meski begitu, warga dua desa ini sebagian besar merupakan kerabat karena seringnya terjadi pernikahan antarwarga kedua desa. Karena tidak ada jembatan yang menghubungkan, warga yang akan mudik hanya bisa menggunakan rakit untuk menyeberang saat mudik.

Setiap menjelang Lebaran, banyak warga Ciamis pulang kampung sehingga pemandangan terlihat berbeda dari hari biasanya. Pakaian para penumpang lebih rapi dan mereka membawa banyak barang bawaan, kata Rahman (36), warga Padaherang.

“Kalau ada jembatan, kami tidak akan naik rakit seperti ini,” kata Fitri (28) sambil menambahkan bahwa dia lebih memilih mengunakan jasa rakit saat mudik karena jarak tempuh yang lebih singkat.

“Jika mengunakan rakit, kami bisa melintasi sungai hanya dalam waktu kurang dari 20 menit. Sementara kalau melalui darat jaraknya sangat jauh mencapai 80 kilometer, belum lagi kondisi jalan yang rusak,” ujarnya. Hanya saja naik rakit harus waspada, karena tidak ada pegangannya. Bisa-bisa jatuh ke sungai Citanduy dan nyawa jadi taruhannya.

Saat lebaran, ongkos menyeberang dengan rakit yang biasanya cuma Rp 1.000 per orang naik menjadi Rp 2.000. Namun itu tidak memberatkan warga yang mudik apalagi sebagian besar mereka jarang pulang kampung.

4. Mudik bersepeda onthel dari Jakarta Kebumen
Mudik bersepeda onthel dari Jakarta Kebumen
Galih, pemuda yang merantau di Jakarta ini memilih pulang kampung ke Kebumen, Jawa Tengah dengan sepeda onthelnya. Dia memilih cara yang tidak biasa ini karena tidak usah susah payah mengantre untuk mendapatkan karcis kereta api atau bus.

Selain itu, dengan bersepeda tubuh akan menjadi sehat dan dapat menikmati pemandangan selama menempuh ratusan kilometer perjalanan. Mudik bersepeda baru dilakoninya tahun ini. Meski tampak letih, Galih mengaku menikmati perjalanan yang diperkirakan berakhir hingga tiga hari ini. Setiap dua jam, dia berhenti sejenak untuk beristirahat.

“Untuk mengendurkan otot kaki, pinggang, serta tangan. Mudik dengan sepeda pengalaman baru buat saya,” kata Galih.

Waktu istirahat itu juga digunakannya untuk mengecek ban serta bagian sepeda lainnya. Hebatnya lagi, perjalanan dari Jakarta menuju Kebumen dilakukannya seorang diri.

5. Mudik dengan perahu kayu
Mudik dengan perahu kayu
Di kalangan warga Desa Pagagan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura, mudik dengan menggunakan perahu layar motor (PLM) menjadi pilihan favorit mereka.

Sebagian besar mereka adalah perantau yang hendak kembali ke wilayah Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan ke Situbondo. Alat transportasi alternatif itu, dinilai jauh lebih hemat ketimbang menumpang bus umum. Selain itu, meski harus mengarungi lautan luas, naik perahu dipandang lebih cepat tiba di Pelabuhan Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

“Perahu kayu ini menuju Pelabuhan Kalbut, Situbondo. Tapi yang paling banyak melayani trayek Pamekasan-Kraksaan, Probolinggo. Jarak tempuhya lebih cepat, hanya empat jam,” kata Muhamad Hayat, awak salah satu perahu kayu tujuan Probolinggo.

Menurut Hayat, penumpangnya hanya dikutip ongkos Rp 20 ribu untuk dewasa dan Rp10 ribu untuk anak-anak. Untuk barang bawaan, semisal sepeda motor dikutip Rp 50 ribu di atas perahu ditambah Rp 15 ribu ongkos angkut naik perahu kecil ke perahu kayu yang buang jangkar 300 meter dari garis pantai.

loading...

Komentar Anda

Leave a Comment

Berita Terkait